Ari Sihasale Pilih Berpolitik Lewat Film

JAKARTA, JUMAT - Rame-rame kalangan selebritas menjajal peruntungan untuk duduk di kursi anggota dewan, rupanya tak membuat aktor dan produser Ari Sihasale ngiler. Buktinya, suami Nia Zulkarnaen itu, memilih memfokuskan diri berkarya di dunia yang telah membesarkan namanya itu.  

Diakuinya, sudah dua kali ia ditawari dua partai berbeda untuk menjadi calon legislatif (caleg), untuk daerah Papua. Namun, produser film Denias, Senandung Di Atas Awan itu, memilih bergeming. "Saya tidak bisa menyebutkan partainya. Saya menolaknya karena merasa belum waktunya. Mungkin nanti setelah 5 atau 10 tahun mendatang ketika saya sudah benar-benar mengerti dan belajar politik secara mendalam dan merasa sudah siap," kata Ale, sapaan akrabnya, ketika ditemui di sela syuting film terbarunya, Garuda Di Dadaku, Gelora Bung Karno, Kamis (20/11) kemarin.

Bagi Ale, untuk turut berpartisipasi dalam dunia politik, seseorang tidak harus selalu menjadi anggota legislatif. Tapi, lebih kepada kontribusi nyata yang dampaknya bisa langsung dirasakan. "Saya lebih memilih terlibat di politik lewat film. Seperti film tentang pendidikan. Di mana saya bisa menyelipkan pesan-pesan politik dengan lebih bebas dan tidak memihak. Jangkauannya pun akan lebih luas. Sehingga daerah-daerah seperti Papua pendidikannya dapat lebih diperhatikan," ujar Ale.

Ale juga tidak ingin memanfaatkan profesinya sebagai artis yang sudah dikenal publik untuk dijadikan alat publikasi partai. "Saya merasa masyarakat kita sudah pintar memilih. Tidak hanya lantaran calegnya terkenal lalu mereka mencoblos. Dan saya juga tidak ingin menjadi seseorang yang mengambil perhatian masyarakat lewat sisi keartisan," tegasnya. (IFA/EH)


EH,IFA
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
© 2008 — Indonesia Memilih