Mencentang? Pegang Pulpen Saja Bergetar...
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang menamakan diri TOP 2009 berunjuk rasa di depan kantor Komisi Pemilihan Umum, Jakarta, Kamis (28/8). Mereka menolak diadakan Pemilihan Umum 2009 karena dianggap menghamburkan uang negara.

Laporan wartawan Kompas.com Inggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, JUMAT — KPU telah mengusulkan teknis pemberian suara dengan mencentang. Namun, teknis ini masih mengundang pro-kontra dengan alasan tidak seluruh masyarakat Indonesia mengenal istilah itu. Apalagi, selama ini pemilih sudah akrab dengan cara mencoblos untuk memberikan suaranya.

Mantan anggota KPU Imam Prasodjo khawatir perubahan metode yang drastis ini akan menimbulkan kebingungan pada masyarakat pemilih. "Saya khawatir kalau metode berubah secara drastis, dengan waktu sosialisasi yang pendek nanti masyarakat bingung. Masyarakat kita ini banyak yang masih pendidikan rendah, SD juga banyak yang enggak tamat. Pegang pulpen saja bergetar, tidak nyaman," kata Imam seusai diskusi di Gedung DPD, Jumat (19/9).

Namun, Imam tak menyatakan menolak perubahan metode tersebut. Hanya saja, jika memang disepakati seperti itu hendaknya diikuti dengan waktu sosialisasi yang panjang. Jika tidak, kemungkinan partisipasi pemilih akan rendah. Selain disebabkan masih kacaunya pendataan pemilih, juga faktor kemungkinan banyaknya surat suara yang tidak sah karena perubahan teknis pemberian suara.

"Dengan metode centang itu bisa saja terjadi surat suara yang tidak sah, ditambah golput lagi sehingga takutnya tidak menghasilkan pemerintahan yang legitimate," ujar Imam. (ING) 


ING
Nilai 2.7 A A A
Ada 14 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Phyan @ Minggu, 19 Oktober 2008 | 10:23 WIB
Rakyat ngak sebodoh yang dipikikan para elit,justru dgn contreng peluang manipulasi suara sangat tipis. RAKYAT PASTI BISA
selvi @ Kamis, 16 Oktober 2008 | 17:51 WIB
GITU AJA KOK REPOT !! Rakyat tidak seBODOH yang pemerintah anggap. Mo coblos atau centang no problem karena Saya akan GOLPUT !!
Ahmad Yani @ Kamis, 16 Oktober 2008 | 13:05 WIB
Ya...yang penting saat Pemilu ini jangan di jadikan hura2 atau hambur2 uang.Kasihan Rakyat kita masih banyak yang hidupnya susah. Atau kita balik aja zaman kerajaan aja.
Hamka @ Senin, 6 Oktober 2008 | 10:45 WIB
Jangankan pegang polpen, masyarakat kita masih banyak yang belum lihat polpen. khan kasihan mayarakat kita yang tinggalnya dipengunungan atau daerah pelosok. mereka juga berhak untuk memilih, jangan sampai karena ngga tau menggunaan polpen mereka ngga ikut memilih.
binyo_tuch@yahoo.co.id @ Rabu, 1 Oktober 2008 | 18:29 WIB
jangan suka menambah masalah lg dlm pemilihan,,,dari dulu tinggal coblos aja kok repot,,,yg penting pilih org nya yg bukan cuma bisa janji doang,,,tapi org yg bisa dan mampu membuat indonesia bebas korupsi,dan maju dlm segala biang,terutama ekonomi,,,
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
© 2008 — Indonesia Memilih